Text
Tirani dan Benteng: Dua Kumpulan Puisi
GUNTINGAN PERS DAN KOMENTAR
Ketika saya membacanya untuk pertama kali di rumah tahanan Jalan Keagungan, Jakarta, saya merasa seakan angin segar datang menghembus melenyapkan kegelapan yang ditimbulkan dalam relung-relung kalbu manusia Indonesia oleh tirani seratus menteri. - MOCHTAR LUBIS, 1966
Kami mersa bahwa kami menjadi bagian dari sajak-sajaknya, dan sajak-sajaknya bagian dari kami. Kami merasa bahwa melalui seorang penyair, kita menemukan sebagian dari hati nurani kita (yang mungkin telah hilang atau kita jual). - WINARTA, Majalah Djaja, 14 Mei 1966
TIRANI, meskipun kalau ia punya kelemahan sebagai sajak-sajak yang berdiri sendiri karena bersifat fragmentaris, bernafas pendek atau tidak selesai, namun sebagai kumpulan sajak ia merupakan snapshot yang tajam dari periode sejarah sebagai peristiwa maupun sebagai kisah. Karena periode sejarah yang direkamnya justeru pada sebuah titik penyimpangan, penyimpangan dari suatu orde ke lain orde yang baru. - J. S. HADIS, Berita Yudha, 1966
Sebagai penyair dia tidak tergelincir pada slogan-slogan "demi ampera, demi resolusi, demi rakyat" dll. Di dalam pengungkapannya ia berhasil melahirkan suatu bahasa sederhana yang segar sehingga sifat orisinilnya kemilau lantaran adanya daya penciptaan yang kuat. - ANDRE HARDJANA, Majalah Basis, Juni 1966
Intensitas puitisnya sungguh sangat mengagumkan... Tanggapan artistiknya sangat peka dan liris... Dia mempunyai intelegensi yang (sangat) tajam; dia sangta sensitif (peka, gevoelig); liriknya murni, intens; dia rendah hati; dan dia benar-benar tahu apa arti (pinggir) jalan raya... Dalam sajak-sajak berupa vignet (singkat-singkat), ringan, dengan goresan-goresan ringan pastel, Taufiq berhasil menyajikan seluruh "epos KAMI/KAPPI" itu kembali pada kita. Sungguh, Larto, buluku berdiri terus air mataku berlinang-linang terus, ketika membaca TIRANI-nya Taufiq ini... - IWAN SIMATUPANG (surat pada B.Sularto), Bogor, 27 Maret 1966
Tidak tersedia versi lain