Saya kerap memosisikan diri saya di luar diri saya; menonton diri saya sedang terlibat dalam suatu peristiwa. Cara tersebut saya gunakan untuk memberi jarak antara peristiwa dan emosi. Dengan begitu, saya lebih bisa melihat peristiwa tersebut dengan sudut pandang paling praktis, yaitu sudut pandang ekonomi. Para tokoh dalam buku ini saya bangun berdasarkan motif-motif ekonomi: tawar-menawar,…
"Dengan kadar surealisme yang pekat, puisi-puisi Kiki masih juga bisa menempuh sikap ilmiah atau kuasi-ilmiah, yakni dengan menyerap fenomena sains yang keras dan mengolahnya menjadi peristiwa puitik yang merangsang imajinasi pembaca." −Zen Hae, kritikus sastra (Tempo, 14-20 Januari 2019)
"Habiskan," katanya. Matanya setengah melotot, seperti mata robot. Aku menjilat lelehan es krim. Entah kenapa aku merasa seperti menjilat getah dari pohon yang dilukai. Aku pernah melihat pohon yang dilukai. Kakakku yang melukainya. Dengan paku kakakku membuat gambar hati dan menuliskan namanya dan nama seseorang yang tidak kukenal. Beberapa hari kemudian aku melihat dari gambar itu meleleh …
Dokter Setengah Malaikat Eriyandi Budiman Yang Gugur di Kios Cukur Gunawan Tri Atmodjo Kucing yang Terbelah di Kota Hujan Bamby Cahyadi Kelinci Calvino Kiki Sulistyo Waktu Akasa Dwipa Maaf, Tapi Kamu Harus Musnah Agus Edi Santoso Cinta Itu Babi Dadang Ari Murtono Bagaimana Kalau Kita Saling Membunuh Saja Daruz Armedian Semua Bermula ketika Seekor Ikan Mati Yet…
Bila dibaca lebih dekat, cerpen-cerpen Maywin sesungguhnya berbicara perihal determinasi kapitalisme atas lingkungan alam, ruang sosial, serta individu. Tetapi melalui gaya yang unik dan kalimat-kalimat yang cenderung panjang, dia menyamarkan semua itu dengan mengeksplorasi kondisi kejiwaan tokoh-tokohnya sebagai konsekuensi dari kondisi tersebut. Dengan nuansa Kafkaesque dan sentuhan-sentuhan …
Puisi-puisi dalam buku ini menghimpun suara seorang perempuan belia yang menuturkan kesendirian, kehilangan, kenangan, cinta, relasi yang rumit, usia, seseorang yang rapuh di hadapan waktu yang terus berlalu. Apa yang disuarakan oleh subjek puisi ini seperti menjadi pintu masuk bagi saya untuk melihat kembali proses awal saya menulis puisi ketika saya lebih banyak membahasakan diri dalam pernya…